Tawakal dan Mahabbah
A. Tawakal
1. Pengertian tawakal
Tawakal dalam bahasa Arab adalah turunan dari kata wakil. Wakil adalah dzat atau orang yang dijadikan pengganti untuk menyelesaikan urusan yang mewakilkan. Sehingga tawakal bermakna menjadikan seseorang sebagai wakilnya, atau menyerahkan urusan kepadaa wakilnya. Tawakal kepada Allah adalah menjadikan Allah sebagai wakil dalam mengurusi
segala urusan, dan mengandalkan Allah dalam menyelesaikan segala urusan.
2. Dalil Tentang Tawakal
وَلَوْ اَنَّهُمْ رَضُوْا مَآ اٰتٰىهُمُ اللّٰهُ وَرَسُوْلُهٗۙ وَقَالُوْا حَسْبُنَا اللّٰهُ سَيُؤْتِيْنَا اللّٰهُ مِنْ فَضْلِهٖ وَرَسُوْلُهٗٓ اِنَّآ اِلَى اللّٰهِ رَاغِبُوْنَ ࣖ .
Artinya : Dan sekiranya mereka benar-benar rida dengan apa yang diberikan kepada mereka oleh Allah dan Rasul-Nya, dan berkata, “Cukuplah Allah bagi kami, Allah dan Rasul-Nya akan memberikan kepada kami sebagian dari karunia-Nya. Sesungguhnya kami orang-orang yang berharap kepada Allah.”
3. Contoh sikap dan perilaku tawakal Tawakal yang bisa kita terapkan dalam kehidupan sehari-hari:
1. Selalu bersyukur jika mendapatkan nikmat dari Allah swt, dan bersabar apabila
mendapatkan musibah.
2. Selalu berdoa dan menyerahkan diri atas apa yang kita usahakan sebelumnya.
3. Selalu berprasangka baik terhadap Allah SWT atas kejadian atau apa yang kita terima
4. Tidak berkeluh kesah dan gelisah ketika berusaha dan berikhtiar.
5. Menyerahkan segala sesuatu hal terhadap Allah SWT setelah berusaha keras.
6. Selalu berusaha dan berikhtiar dengan maksimal, selanjutnya bertawakal kepada
Allah SWT.
7. Tidak mudah berputus asa dalam berusaha.
8. Menerima semua ketentuan Allah swt dengan rasa ikhlas dan rida.
9. Ketika meninggalkan rumah, kita bertawakal kepada Allah SWT atas rumah yang kita
tinggalkan.
10. Ketika mendapatkan suatu masalah, kita berserah diri kepada Allah SWT dan berdoa
agar segera mendapatkan solusi dari masalah yang kita alami.
B. Mahabbah
1. Pengertian Mahabbah
Mahabbah artinya cinta. Kata Mahabbah yang diterjemahkan dalam bahasa
Indonesia dengan cinta berasal dari kata Arab Ahabba-Yuhibbu Mahabbatan, beberapa
maknanya adalah mencintai secara mendalam, kecintaan, atau cinta yang mendalam.
Jamil Shaliba dalam dalam kitab al-Mu’jamal-Falsafi menjelaskan bahwa Mahabbah (cinta) adalah lawan dari kata al-Baghd (benci) . Al-Mahabbah dapat pula berarti alWadud, yaitu yang sangat penyayang lagi pengasih. Hal ini mengandung maksud cinta
kepada Tuhan lebih luas lagi, “Mahabbah” memuat pengertian Memeluk dan mematuhi
perintah Tuhan dan membenci sikap yang melawan pada Tuhan, Berserah diri kepada
Tuhan, Mengosongkan perasaan di hati dari segala-galanya kecuali dari Zat Yang
Dikasihi.
2. Dalil tentang Mahabbah
قُلْ اِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّوْنَ اللّٰهَ فَاتَّبِعُوْنِيْ يُحْبِبْكُمُ اللّٰهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوْبَكُمْ ۗ وَاللّٰهُ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ
Artinya : Katakanlah (Muhammad), “Jika kamu mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya
Allah mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu, Allah Maha Pengampun, Maha
Penyayang.” (ali imron : 31)
Ayat ini sebagai pemutus hukum bagi setiap orang yang mengaku men- cintai Allah
tetapi tidak menempuh jalan Muhammad, Rasulullah H, bahwa dia adalah pembohong
dalam pengakuan cintanya itu sehingga dia mengikuti syari’at dan agama yang dibawa
oleh Nabi Muhammad dalam semua ucapan dan perbuatannya. Sebagaimana yang
disebutkan dalam sebuah hadits shahih, dari Rasulullah H, beliau bersabda: "Barangsiapa
melakukan suatu amal yang tidak ada perintahnya dari kami, maka amalan itu tertolak."
3.Contoh Dan perilaku mahabbah
Sikap yang tidak berhenti hanya pada kalimat tasbih, tahmid, takbir, serta kalimat
pujian lainnya, tapi terpatri dalam bentuk sikap sayang dan sikap tegas, serta sikap
pantang menyerah mengemban misi kebenaran walau apa pun halangan dan
rintangannya. Orang yang hatinya diliputi cinta kepada Allah senantiasa bersikap mulia
dan berusaha menghiasi dirinya dengan sikap para pencinta Allah.
Cinta kepada Allah harus dibuktikan dengan lahirnya sikap-sikap sosial seseorang
kepada sesamanya, dimana sikap sosial tersebut tidak lain kecuali sikap ihsan kepada
sesama, terutama kepada mereka yang sangat membutuhkannya. Adanya sikap baik pada
diri seorang hamba akan menjadi semacam jaminan baginya untuk merasakan kecintaan
Allah kepadanya .
Mendekatkan diri kepada Allah swt. Dengan ibadah sunnah setelah ibadah wajib.
Termasuk dalam sikap mahabbah, kemudian yang selanjutnya adalah membaca Al-Quran
sambil mentadaburinya dan memahami maknanya.
Komentar
Posting Komentar