Khauf dan Raja'
A. Khauf
1. Pengertian Khauf
Dalam bahasa Arab berasal dari suku kho’, wawu, dan fa’, artinya menunjukkan
gentar dan terkejut. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata khauf merupakan kata
benda yang berarti kekhawatian dan ketakutan. Khauf artinya perasaan takut
disebabkan oleh adanya sesuatu yang membahayakan, mencelakakan, dan menganggu.
Sedangkan secara termologis yang dimaksud khauf (takut) adalah menghindari
perbutan terlarang yang tidak haram, dan menjauhi sama sekali perbuatan haram. Dan
dalam perspektif imam Qusyairi, khauf adalah perasaan dikedalaman hati yang
menghindarkan seorang salik dari segala yang tidak disukai dan tidak diridhai Allah
SWT. Al Qusyairi menegaskan bahwa khauf sangat berpengaruh pada masa depan. Ia
berkta “ khauf adalah sebuah makna yang berhubungan dengan masa depan,karena
orang yang bersangkutan takut melakukan sesuatu yang tidak disukai atau takut
melewatkan sesuatu yang disukai, dan semua itu hanya terjadi di masa depan.
Menurut Istilah khauf adalah sikap mental dari seseorang yang merasa takut
kepada Allah SWT atas kekurang sempurnanya dalam mengabdikan dirinya (Abdullah,
2016). Seorang tokoh sufi seperti al-Qusyairiyah berpandangan bahwa khauf adalah hal
yang berkaitan dengan masa yang akan datang. Orientasi kehidupan yang akan datang
bermakna bahwa apa yang dilakukan seseorang dilandasai dengan perasaan takut untuk
menghalalkan yang makruh dan meninggalkan yang sunah. Keyakinan yang didapat
bahwa takut kepada Allah berhubungan dengan takut akan siksaan baik saat berada di
dunia mapun di akhirat kelak (Sodiman, 2014).
2. Dalil tentang Khauf
اُولٰۤىِٕكَ الَّذِيْنَ يَدْعُوْنَ يَبْتَغُوْنَ اِلٰى رَبِّهِمُ الْوَسِيْلَةَ اَيُّهُمْ اَقْرَبُ وَيَرْجُوْنَ رَحْمَتَهٗ وَيَخَافُوْنَ عَذَابَهٗۗ اِنَّ عَذَابَ رَبِّكَ كَانَ مَحْذُوْرً.
Artinya : Orang-orang yang mereka seru itu, mereka sendiri mencari jalan kepada Tuhan siapa di antara mereka yang lebih dekat (kepada Allah). Mereka mengharapkan rahmat-Nya dan takut akan azab-Nya. Sungguh, azab Tuhanmu itu sesuatu yang (harus) ditakuti.”
3. Contoh Penerapan perilaku Khauf
1. Rasa takut kepada Allah SWT. Sikap perilaku khauf kepada Allah dapat
membimbing manusia senantiasa taat dan patuh atas segala perintah-Nya, serta
menghindari apa yang dilarang-Nya. Sebab takut kepada dapat ppula diartikan takut
akan azab dan siksa-Nya, takut ibadahnya tidak diterima oleh Allah. Selain itu, sikap
prilaku takut kepada Allah juga dapat diwujudkan dalam bentuk ketaatan dan
kepatuhan atas ajaran agama yang telah disampaikan oleh Allah SW. Dalam AlQur’an al karim dan Rasul-Nya dalam Al-Hadits.
2. Rasa takut disaat hendak melakukan maksiat.
3. Rasa takut ketika lupa berbuat amal shaleh.
B. Raja'
1. Pengertian Raja'
Raja’ atau harap adalah memerhatikan kebaikan dan berharap dapat mencapainya,melihat berbagai bentuk kelembutan dan nikmat Allah SWT, dan memenuhi diri dengan harapan demi masa depan serta hidup demi meraih harapan tersebut. Para sufi memberi definisi raja’ dengan pernyataan “ keterkaitan hati dengan sesuatu yng disukai yang akan dicapai dimasa mendatang”. Berdasarkan definisi ini maka raja’ dapat diartikan sebagai penantian datangnya kebaikan-kebaikan dan harapan terhadap ampunan dari Allah SWT melalui tobat.
Ar-raja’ (mengharap) menurut imam al-Ghazali adalah sebagian dari maqamat para salikin dan ahwal orang-otang yang dalam pencarian untuk dekat dengan Tuhan. Hakikat dari mengharap( ar-raja’) dilengkapi dengan hal,ilm dan amal. Ilm sebagai sebab yang dapat menimbulkan hal, dan hal memerlukan adanya amal. Sedang al-raja’ adalah nama dari ketiganya. “Berharap merupakan sesuatu yang lebih baik dari pada merasa takut, Hal itu karena hamba yang paling dekat dengan Allah swt, adalah hamba yang dicintainya. Penjelasannya adalah apa saja yang dijumpai oleh seseorang tidak terlepas dari ”dibenci” dan ”dicintai”. Kedua kondisi ini keberadaannya ada pada saat sekarang, masa lalu dan masa yang akan datang
2. Dalil tentang Raja'
قُلْ إِنَّمَآ أَنَا۠ بَشَرٌ مِّثْلُكُمْ يُوحَىٰٓ إِلَىَّ أَنَّمَآ إِلَٰهُكُمْ إِلَٰهٌ وَٰحِدٌ ۖ فَمَن كَانَ يَرْجُوا۟ لِقَآءَ رَبِّهِۦ فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا صَٰلِحًا وَلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِۦٓ أَحَدًۢا
Artinya: Katakanlah: Sesungguhnya aku ini manusia biasa seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku: "Bahwa sesungguhnya Tuhan kamu itu adalah Tuhan yang Esa". Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadat kepada Tuhannya".(QS Al Kahfi : 110)
3. Contoh perilaku Raja'
Sedangkan sikap raja selalu mendorong umat Islam supaya melihat dan
menghadapi setiap persoalan dengan pengharapan. Salah satu dari contoh raja’ yaitu
keadaan optimis antara lain seorang petani yang bersikap raja’ ia selalu bekerja dengan
baik mengolah tanah, memilih benih, memupuk dan memelihara serta merawatnya
dengan teknik dan aturan yang tepat, sementara petani tersebut menunggu masa panen
seraya berdo’a kepada Allah agar tanamannya terpelihara dan mendapat hasil yang
baik. Ada dua pokok ajaran Islam yang selalu mendorong sikap optimis, yaitu: pertama
Selalu mengharap rahmat dan nikmat Ilahi, walaupun kita dalam kondisi yang tidak
menggembirakan. Kedua Walaupun seorang (umat Islam) penuh gelimang dosa,
tapi baginya selalu terbuka kesempatan untuk memohonkan ampun (istighfar) dari Allah
SWT
Sumber rahmat dan ampunan Ilahi, keduanya memupuk dan meningkatkan
semangat pengharapan (optimisme) seorang muslim dalam kehidupan yang
kompleks ini. Dalam hubungan dengan sikap jiwa atau mental ini, agama Islam
senantiasa mengajarkan supaya selalu mengharap (optimis), dan membuang jauh-jauh
sikap putus asa (pesimis).
Komentar
Posting Komentar