MAQOMAT DAN AHWAL DALAM ILMU TASAWUF FALSAFI DAN AMALI
A. Pengertian Maqamat
Maqamat merupakan bentuk jamak dari maqam. Dari segi bahasa, maqam mengandung arti kedudukan dan tempat berpijak dua telapak kaki. Dalam ilmu tasawuf, istilah maqam mengandung arti kedudukan hamba dalam pandangan Allah, menurut apa yang diusahakan berupa ibadah, perjuangan, latihan, dan perjalanan menuju Allah Azza wa Jalla. Tingkatan (maqam) adalah tingkatan seorang hamba dihadapan Tuhan-Nya, dalam hal ibadah dan latihan-latihan (riyadhah) jiwa yang dilakukannya
B. Tahapan-tahapan dalam Maqamat
1. Al-taubah, yaitu memohon ampun atas segala dosa yang disertai dengan penyesalan dan berjanji dengan sungguh-sungguh untuk tidak mengulangi perbuatan dosa tersebut dan dibarengi dengan melakukan kebajikan yang dianjurkan oleh Allah.
2. Al-zuhud, ialah tidak merasa bangga dengan kemewahan dunia yang telah ada di tangannya dan tidak merasa bersedih dengan hilangnya kemewahan tadi dari tangannya.
3. Al-wara’, Pengertian wara’ dalam pandangan sufi adalah meninggalkan segala sesuatu yang tidak jelas hukumnya, baik yang menyangkut makanan, pakaian, maupun persoalan lainnya.
4. Al-faqr. Dalam pandangan sufi, fakir adalah tidak meminta lebih dari apa yang telah ada pada diri kita. Tidak meminta rezeki kecuali hanya untuk menjalankan kewajiban-kewajiban.
5. Al-shabr. Menurut pandangan Dzun Nun al-Misri, sabar berarti menjauhkan diri dari hal-hal yang bertentangan dengan kehendak Allah, tetap tenang ketika mendapat cobaan dan menampakkan sikap cukup,walaupun sebenarnya berada dalam kefakiran. Berdasarkan pengertian di atas, maka sabar erat hubungannya dengan pengendalian diri, pengendalian sikap dan pengendalian emosi.
6. Al-tawakkal. Secara harafiah, tawakal artinya berserah diri kepada Allah SWT. Hamdun al-Qashshar mengatakan tawakkal adalah berpegang teguh pada Allah.
7. Al-ridla. Ridha, secara harfiah, berarti rela, senang dan suka. Sedangkan pengertiannya secara umum adalah tidak menentang qadha dan qadar Allah, menerima qadha dan qadar dengan hati senang. Menurut Abdullah bin Khafif, ridha dibagi menjadi dua macam: ridha dengan Allah dan ridha terhadap apa yang datang dari Allah.
C. Pengertian Ahwal
Secara bahasa, ahwal merupakan jamak dari kata tunggal hal yang berarti keadaan sesuatu (keadaan rohani), yakni keadaan hati yang dialami oleh para ahli sufi dalam menempuh jalan untuk dekat dengan Tuhan. Ahwal juga bisa diartikan dengan situasi kejiwaan yang diperoleh oleh seorang sufi sebagai suatu karunia Allah Swt, bukan dari hasil usahanya.
D.Tingkatan-tingkatan Ahwal
1. Muhasabah dan Muraqabah (Mawas Diri dan Waspada) Muhasabah ialah meyakini bahwa Allah mengetahui segala pikiran, perbuatan, dan rahasia dalam hati yang membuat seseorang menjadi hormat, takut, dan tunduk kepada-Nya. Sedangkan Muraqabah yaitu adanya kesadaran diri bahwa ia selalu berhadapan dengan Allah dalam keadaan diawasi-Nya.
2. Hubb (cinta)
Hubb adalah cinta. Maksudnya, cinta seorang hamba kepada tuhan. Dalam pandangan tasawuf, hubb pada dasarnya anugerah yang menjadi dasar pijakan ahwal, sama seperti taubat yang menjadi dasar pijakan maqam.
3. Raja’ dan Khauf (Berharap dan Takut)
Menurut kalangan kaum sufi, Raja’ dan khauf harus berjalan seimbang dan saling mempengaruhi. Raja’ dapat berarti berharap atau optimis, yaitu perasaan senang hati karena menanti sesuatu yang diinginkan dan disenangi. Raja’ menuntut tiga perkara yaitu: cinta kepada apa yang di harapkannya, takut apabila harapan yang hilang, berusaha untuk mencapainya.
4. Syauq (Rindu)
Syauq yang dimaksudkan ialah rindu kepada Tuhan. Syauq ialah rasa rindu yang memancar dari kalbu karena gelora cinta yang murni dan di sertai dengan mahabbah.
5. Uns (intim)
Uns (intim) adalah keadaan jiwa dan seluruh ekspresi terpusat penuh pada suatu titik sentrum, yaitu Allah; tidak ada yang dirasa, tidak ada yang diingat, dan tidak ada yang diharap kecuali Dia.
Sehingga dapat disimpulkan bahwasanya maqam adalah usaha yang dilakukan oleh seseorang untuk mencapai tingkatan sufi sedangkan ahwal adalah hasilnya dari melakukan usaha tersebut. Seperti contoh seseorang yang bertaubat untuk mencapai sebuah hidayah dari Allah SWT.
F. Tasawuf Falsafi
Tasawuf falsafi adalah ajaran bagiamana memadukan visi rasional dan visi mistis untuk menuju kepada kebahagian sejati. Ajaran tasawuf falsafi, konsep dan praktiknya banyak dipengaruhi oleh pemikiran filosofis bahkan ada beberapa yang menyebutkan bahwa ajaran ini menyimpang dari luar Islam (Arif, 2008). Ajaran tasawuf falsafi dipercaya tidak bisa dicerna baik oleh masyarakat awam.
Tasawuf falsafi adalah sebuah konsep ajaran tasawuf yang mengenal Tuhan (makrifat) dengan pendekatan rasio (filsafat) hingga menuju ketinggkat yang lebih tinggi, bukan hanya mengenal Tuhan saja (makrifatullah) melainkan yang lebih tinggi dari itu yaitu wihdatul wujud (kesatuan wujud). Bisa juga dikatakan tasawuf falsafi yakni tasawuf yang kaya dengan pemikiran-pemikiran filsafat. Di dalam tasawuf falsafi metode pendekatannya sangat berbeda dengan tasawuf sunni atau tasawuf salafi
G. Tasawuf Akhlaki
Tasawuf akhlaki adalah tasawuf yang beorientasi pada perbaikan akhlak, mencari hakikat kebenaran dan mewujudkan manusia yang dapat makrifat Allah SWT, dengan metode-metode tertentu yang telah dirumuskan. Tasawuf akhlaki biasa juga disebut dengan istilah sunni. tasawuf model ini berusaha untuk mewujudkan akhlak yang mulia dalam diri si sufi, sekaligus menghindari diri dari akhlak mazmumah (tercela). tasawuf akhlaki ini dikembnagkan oleh ulama salaf as-salih
H. Tasawuf Amali
Tasawuf amali lebih menekankan terhadap cara-cara mendekatkan diri kepada Allah swt, baik melalui amalan lahiriah maupun batiniah. Tujuannya mendekatkan diri kepada Allah swt dengan menghapuskan segala sifat yang tercela serta menghadap sepenuhnya kepada Allah swt dengan berbagai amaliah atau riyadhah yang dilakukan seperti memperbanyak wirid serta amaliah-amaliah lainnya.
Tasawuf amali adalah tasawuf yang membahas tentang bagaimana cara mendekatkan diri kepada Allah Swt. Sebagaimana dijelaskan pada bagian sebelumnya, tasawuf ‘amali merupakan kelanjutan dari tasawuf akhlaqi karena seseorang yang ingin berhubungan dengan Allah maka Ia harus membersihkan jiwanya. Seperti firman Allah SWT “dan Allah menyukai orang-orang yang bersih” (Qs. at- Taubah:108) dan “sesungguhnya Allah menyukai orang yang bertobaat dan menyukai orang-orang yang mensucikan diri” (Qs. al-Baqarah: 222).
Komentar
Posting Komentar