MAQAMAT TAUBAT DAN SABAR

 MAQAMAT TAUBAT dan SABAR 

A. Maqamat taubat

Secara etimologis, taubat berasal dari kata taba, yatubu berarti kembali, menyesal atas perbuatan dosa, atau bertobat. Sedangkan secara terminologi atau istilah taubah berarti kembali dari segala sesuatu yang dicela oleh Allah SWT menuju kearah yang dipuji oleh-Nya.4 Dalam perspektif sufistik, tobat adalah kembali dari alam materi ke alam rohani, setelah terbutakannya cahaya fitrah dan rohani tersebut oleh gelapnya hawa nafsu karena dosa-dosa dan kedurhakaan. Pada tahap taubat ini, seorang sufi membersihkan dirinya (taskiyyah an-nafs) dari perilaku yang menimbulkan dosa dan rasa bersalah. Taubat juga merupakan sebuah terma yang dikembangkan para salikin (orang-orang menuju Tuhan) untuk mencapai maqamat tersebut. Kaum sufi menjelaskan bahwa taubat bukan hanya menghapus dosa, akan tetapi lebih dari itu yakni menjadi syarat mutlak mendekatkan diri kepada al-Haqq. Apabila
taubat seseorang itu dapat di terima di hadapan Allah, maka dia harus menjalani syarat- syarat taubat sebagai berikut:

1. Menyesal atas perbuatan yang telah dilakukan.
2. Berhenti total dari pelanggaran serupa.
3. Bertekad tidak mengulanginya lagi di masa mendatang.

Tiga perkara ini harus terkumpul di saat seseorang bertaubat. Artinya, jika seseorang bertaubat maka dalam satu waktu ia harus menyesal, berhenti total dari
pelanggaran serupa, dan bertekad tidak mengulanginya lagi. Dengan demikian,
seseorang yang telah melakukan taubat dan memenuhi syarat ini maka ia telah
kembali kepada tingkatan ubudiah. Pada titik balik inilah seseorang benar-benar telah melakukan taubat yang hakiki.
Menurut Al Ghazali penerapan sikap tobat terbagi menjadi 4 yaitu : 
• Berhenti dari perbuatan maksiat dan dosa yang selama ini dilakukannya, baikdisengaja maupun tidak, baik kepada Allah Swt. maupun kepada sesama manusia.
• Menyesali segala dosa dan salah yang telah diperbuat dengan penyesalan yangsangat dalam.
• Berjanji dengan sepenuh hati untuk tidak mengulangi lagi perbuatan dosa dan salah 
• Jika dosa itu ada kaitannya dengan sesama manusia, sebelum memohon ampunkepada Allah Swt. harus bertobat dulu meminta maaf kepada mereka yang menjadikorban perbuatannya itu, sebab Allah Swt. tidak akan mengampuni dosa-dosa yangada kaitannya dengan manusia sebelum mereka saling memaafkan.

2. Maqamat sabar

Sabar dalam pengertian bahasa adalah "menahan atau bertahan." Jadi, sabar adalah
menahan diri dari rasa gelisah, cemas dan marah, menahan lidah dari keluh kesah serta menahan anggota tubuh dari kekacauan. Sabar dalam pengertian tasawuf adalah keadaan jiwa yang kokoh, konsekuen dalam pendirian Jiwanya tidak tergoyahkan,
pendiriannya tidak bagaimanapun berat tantangan yang dihadapi.
Menurut Al-Ghazali, sabar jika dipandang sebagai pengekangan tuntutan nafsu dan
amarah, dinamakan sebagai kesabaran jiwa (ash-shabr an-nafs) sedangkan menahan
terhadap penyakit fisik, disebut sebagai sabar badani (ash shabr al badani). Kesabaran jiwa sangat dibutuhkan dalam berbagai aspek Misalnya, untuk menahan nafsu makan dan seks yang berlebihan.
Contoh penerapan sikap dari sabar adalah :

a. Sabar Menghadapi Musibah
b. Mendengarkan Nasehat
c. Menahan Hawa Nafsu
d. Tidak Membalas Ejekan
e. Memaafkan Kesalahan Orang Lain
f. Berlaku Baik Kepada Orang Yang Memusuhi
g. Berprasangka Baik Kepada Allah
h. Sabar Menghadapi Kelas Ramai
i. Menunggu Antrian
j. Tersenyum Ketika Diremehkan



Komentar