SEJARAH PERKEMBANGAN AKHLAK TASAWUF DARI ZAMAN KE ZAMAN

 A. Lahirnya tasawuf

Tasawuf adalah istilah ilmu yang muncul pada masa tabi'in atau zaman setelah Rasulullah. Mereka adalah orang yang tidak tergoda oleh godaan duniawi namun juga tidak meremehkannya. Setelah masa tabi'in kemudian ada yang mengaku Zuhud dan berpakaian shuf(dari kulit domba) yang kemudian dengan pakaian inilah mereka dipanggil sebagai sufi. 
Ada tiga tahapan prinsip perkembangan tasawuf:

1. Periode dengan menonjolkan gerakan gerakan zuhud sebagai fenomena sosial. Periode ini berlangsung selama abad ke-1 dan ke-2 hijriyah yang dipelopori oleh para sahabat, tabi’in. Pada periode ini yang terjadi adalah semangat untuk beribadah dengan prinsip yang telah diajarkan oleh Nabi Saw, yang kemudian mereka mencoba menjalani hidup zuhud. Tokoh tokoh sufi pada periode ini adalah Hasan Bashri (110 H.) dengan konsep khouf dan Robi’ah
al-Adawiyah (185 H.) dengan konsep cinta (al-Hubb)
2. Masuk pada abad ke-3 hingga ke-4 Hijriyah tasawuf kembali dengan tingkatan baru. Pada abad ini para sufi mengangkat tema yang lebih mendalam. Berawal dari perundingan seputar akhlak dan budi pekerti, mereka mulai banyak membahas tentang hakikat Tuhan, esensi manusia dan hubungan antar keduanya. Kemudian dalam hal ini timbul tema-tema seperti ma’rifat, fana’, dzauk, dan lain sebagainya. Beberapa tokoh pada masa ini yaitu Imam al- Qusyairi, Suhrawardi al-Baghdadi, Al-Hallaj, dan Imam Ghazali. 
3. Abad ke-6 hingga ke-7 tasawuf juga menemukan suatu bentuk pengalaman baru. Pergesekan tasawuf dengan filsafat berhasil membuat tasawuf menjadi lebih filosofis yang kemudian dikenal dengan istilah teosofi. Kemudian dari sinilah muncul dua jenis tasawuf, Sunni dengan corak amali dan Falsafi dengan corak iluminatif. Beberapa tokoh teosofi abad ini yaitu
Surahwardi al-Maqtul (549 H.), Ibnu ’Arabi (638 H.), dan Ibnu Faridh (632 H.)

B. Tasawuf pada zaman Nabi (periode 1)

Meskipun tasawuf dikatakan ilmu yang lahir setelah periode nabi, tetapi pada zaman nabi sudah ada tasawuf hanya saja belum diberi nama sebagai tasawuf. Tasawuf nabi adalah sikap beliau yang tidak tergoda terhadap kenikmatan duniawi yang fana beliau juga sangat tertarik dengan konsep dan ketuhanan. Diantara sifat nabi yang menunjukkan bahwa dia bertasawuf adalah:

1. Kasih sayang terhadap semua makhluk
Jika kita mengulik sejarah bahwa kita akan tahu sifat nabi itu selalu memanusiakan manusia mulai dari beliau yang pemaaf, tidak mudah marah, rajin bersedekah, bahkan beliau juga rela berkorban untuk memerdekakan budak. 
2. Rendah hati
Sifat rendah hati (tawadu') nabi dapat dibuktikan dengan sikap nya yang tidak pernah sombong tentang apa yang dia miliki baik harta maupun ilmu pengetahuan. 
3. Beribadah
Nabi tentu saja rajin beribadah baik ibadah wajib maupun Sunnah beliau selalu mengerjakannya. 
4. Pemalu
Sifat pemalu nabi tidak bisa didefinisikan bahwa beliau malu di depan umum tetapi seorang muslim hendaknya malu terhadap Allah yang sebegitu besarnya nikmat yang diberikan kepada manusia tetapi masih saja ada yang lalai dan kufur nikmat.
5. Gemar memberi
Nabi tidak segan-segan dalam memberikan sesuatu bahkan ada kisah ada seorang sahabat yang memuji jubah nabi dan nabi pun tanpa keraguan memberikan jubah tersebut padahal jubah itu merupakan pakaian yang paling bagus menurut nabi.

B. Perkembangan Akhlak Tasawuf Periode 2 Masa Sahabat


Beberapa sahabat yang tergolong sufi pada
abad pertama, Khulafaurrasyidin, Abu Ubaidah bin Jarrah, Said bin Amr, dan lain-lain. Menurut riwayat sejarah, diantara beberapa sahabat Nabi yang pertama kali memfilsafatkan ibadah dan menjadikan ibadah sebagai salah satu tarekat yang khusus yaitu Huzaifa bin Al-Yamani, salah
satu sahabat nabi yang mulia dan terhormat. Beliaulah yang pertama kali menyampaikan ilmu-ilmu yang kemudian sekarang dikenal dengan Tasawuf, dan beliau juga yang membuka celah serta teori-teori untuk tasawuf itu. Penekanan ajaran tasawuf pada periode ini sama dengan periode sebelumnya yaitu hidup zuhud, yang senantiasa berpegang teguh pada Alquran dan Sunnah. Beberapa tokoh-tokoh antara lain Abu Bakar Ash-Shiddiq, Umar bin Khattab, Utsman bin Affan, Ali bin Abi Thalib, Abu Ubaidah, Ibn Al-Jarrah, Sa‘id bin Amr, Abdullah bin Mas‘ud, Abu Dzar al Ghifari, Salim Maulana, Abu Hudzaifah, Abdullah bin Umar, Miqdad bin Aswad, Salman Al-Farisi, dan lain sebagainya

C. Perkembangan Akhlak Tasawuf Periode 3 Masa Tabi’in

Setelah periode sahabat, dalam sejarah perkembangannya, ajaran kaum sufi dapat dibagi ke dalam beberapa periode, yang tiap-tiap periode memiliki cirinya masing-masing. Periode tersebut antara lain: (1) Abad ke 1-2 Hijriah, (2) Abad ke 3-4 Hijriah, dan (3) Abad ke-6 dan seterusnya. Dilihat
berdasarkan uraian tersebut dapat disimpulkan bahwa ajaran kaum “sufi” pada abad pertama dan kedua bercorak akhlaki, yaitu pendidikan moral dan mental dengan tujuan pembersihan jiwa dan raga dari dari pengaruh-pengaruh duniawi. Dengan kata lain, ajaran tersebut mengajak kaum muslimin untuk hidup zuhud sebagaimana yang telah diajarkan dan dilakukan oleh Rasulullah Saw dan para sahabat

Komentar