PENDEKATAN MISTIS DAN SUFISTIK DALAM STUDI ISLAM

A. Epistemologi Mistis Dan Sufistik

1. Epistemologi Mistis


Kata mistis, menurut De Jong, seperti juga kata “misteri” berasal dari kata kerja
Yunani mu-ein yang mempunyai dua arti. Arti pertama adalah menutup mata dan
mulut, dan arti kedua adalah mengantarkan seseorang ke dalam suatu rahasia lewat
upacara. Pada awal penggunaannya di Barat pada abad ke-5 kata mystical menunjukkan
suatu corak teologi yang hanya mengindahkan pendekatan yang melampaui akal dan
pengalaman manusia. Pada pendekatan etimologis ini tampak bahwa mistis tidak akrab
dengan corak berpikir analitis akali yang menjadi watak ilmu pengetahuan.

Contoh Pengetahuan Mistis
▪ Mukasyafah
Ilmu mukasyafah biasa disebut ilmu kebathinan yaitu ilmu yang menggunakan
hati, rasa dan pikiran. Seseorang yang melakukan mukasyafah ini harus memiliki
pikiran yang bersih dan suci. Biasanya yang memiliki ilmu ini adalah kaum shidiqin
yaitu orang yang benar-benar tulus menghambakan dirinya kepada Allah serta
kaum muqarabbin yaitu mereka yang didekatkan ke hadirat Allah.
▪ Ilmu Laduni
Ilmu laduni adalah ilmu bathiniyah yang bukan merupakan hasil pemikiran,
yang diterima langsung melalui ilham, iluminasi, atau inspirasi dari sisi Tuhan.
Hanya manusia-manusia pilihan Allah yang mampu menguasai ilmu ini. Ilmu
laduni hampir sama dengan ilmu mukasyafah karena ilmu laduni ini juga berasal
dari Allah. Hanya saja yang membedakan antara mukasyafah dan laduni terletak
pada pemerolehannya.
 

2. Epistemologi Sufistik


Arti sufistik menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) adalah bersifat atau
beraliran sufi, berkaitan dengan ilmu tasawuf. Dari beberapa pendapat itu, pendapat
yang mengatakan sufi berasal dari kata suf adalah pendapat yang paling disetujui karena
mereka menganggap dengan mengenakan pakaian sederhana itu, kaum sufi merasa
terhindar dari sifat ria’ dan lebih menunjukkan kezuhudan.
Pendekatan sufistik dalam studi islam adalah sebuah paradigma yang memusatkan
pada kajian tentang pembersihan jiwa manusia, yang kemudian digunakan untuk
memahami dan mengatasi suatu permasalahan tertentu. Sufistik sebagai pendekatan
memiliki karakteristik diantaranya, tema- tema yang diangkat selalu berhubungan
dengan nilai akhlak yang abstrak, berhubungan dengan jiwa manusia, berbicara tentang
pemikiran para tokoh tasawuf, dan berbicara tentang solusi pembersihan jiwa menurut
ajaran al-Quran dan as-Sunnah.

B. Pengaruh Mistis Dan Sufistik Dalam Dunia Modern

1. Pengaruh Mistis Dalam Dunia Modern

Ritual mistis masih sangat kental di dalam kehidupan masyarakat. Meskipun zaman
telah modern, namun ritual di alam gaib tetap dilakukan. Kehidupan masyarakat tidak
dapat dilepaskan dari ritual mistis, yang kemudian diwujudkan dalam laku spiritualnya.
Kehidupan modern tidak dapat terlepas dari pengaruh dunia mistik di dalamnya.
Sebagai contoh, banyak orang modern yang tetap percaya tentang hari baik, dengan
menggunakan perhitungan mistik di dalamnya. Penetapan hari baik tersebut biasa dilakukan untuk menghitung hari pernikahan (Oktiasasi & Harianto, 2016; Yuliana & Sadewo, 2019), menempati rumah baru (Mujiyah, 2014; Permatasari & Habsari, 2015)
ataupun untuk hari istimewa lainnya. Perhitungan hari baik tersebut, biasanya dipercaya
dan digunakan sebagai sarana merawat harmonisasi di semesta.

2. Pengaruh Sufistik Dalam Dunia Modern

Relevansi nilai-nilai sufistik memiliki peran penting dalam kehidupan sosial
masyarakat modern. Seperti kita ketahui, ajaran tasawuf apabila diterapkan akan
memberi makna hidup bagi manusia dalam membentuk kondisi lingkungan yang
kondusif dan berakhlak. Berikut adalah beberapa pengaruh sufistik dalam dunia
modern:
▪ Ajaran Zuhud (asketisme)
Dalam sufistik sangat tepat untuk mengatasi sikap materialistik dan hedonistik
yang merebak dalam kehidupan yang modern ini. Pada intinya, sikap zuhud dapat
menghindarkan diri dari kecenderungan-kecenderungan hati yang terlalu mencintai
kehidupan duniawi.
▪ Ajaran Taqarub Ilallah (mendekatkan diri kepada Tuhan)
Nilai ajaran ini sangat dibutuhkan masyarakat modern yang mengalami jiwa
yang terpecah agar mereka selamat dari jeratan duniawi yang selalu berubah dan
bersifat sementara ini.
▪ Ajaran Sikap Ridha (selalu menerima segala keputusan Allah)
Yang diajarkan dalam tasawuf dapat menghindarkan diri dari sikap frustasi dan
putus asa dalam menghadapi tantangan kehidupan.
▪ Ajaran Uzlah (usaha mengasingkan diri dari perangkap dan tipu daya duniawi)
Dapat digunakan untuk membekali manusia modern agar tidak menjadi sekruft
dari mesin kehidupannya, yang tidak tahu lagi arahnya mau di bawa ke mana.
Ajaran ini membantu masyarakat modern untuk mengendalikan aktivitas
kehidupannya sesuai dengan nilai-nilai ketuhanan dan tidak larut dalam pengaruh
keduniaan.

Komentar