HUBUNGAN FENOMENOLOGI DAN METODE BURHANY

 Metode Burhani Sebagai Sebuah Pendekatan 

Epistemologi berasal dari bahasa Yunani episteme 1 yang artinya pengetahuan dan logos yang artinya perkataan, pikiran, ilmu. Kata “episteme” dalam bahasa Yunani berasal dari kata kerja epistamai, mendudukan, menempatkan atau meletakkan. Secara umum epistimologi dalam islam memiliki tiga kecenderungan atau model berpikir filosofis yang kuat dalam studi islam yaitu bayani, irfani dan burhani.

Espitemologi Burhani Metode

 burhani menyandarkan diri pada kekuatan rasio akal yang dilakukan lewat dalil logika. Menurut al-Jabiri, epistimologi burhani merupakan cara berpikir masyarakat Arab yang bertumpu pada kekuatan natural manusia, yaitu pengalaman empirik dan penilaian akal dalam mendapatkan pengetahuan tentang segala sesuatu. Metode ini mempunyai prosedur yang harus diikuti yang biasanya dikenal dengan prosedur silogisme. Metode burhani tidak hanya menggunakan rasio objek-objek eksternal, maka ia harus melalui tahapantahapan sebelum dilakukan silogisme

Pengertian Fenomenologi 

Secara harfiah istilah fenomenologi berasal dari bahasa Yunani pahainomenon yang memiliki arti gejala atau apa yang menampakkan diri pada kesadaran kita. Dalam hal ini fenomenologi merupakan sebuah pendekatan filsafat yang berpusat pada analisis terhadap gejala yang membanjiri kesadaran manusia. Metode ini dirintis oleh Edmund Husserl (1859-1938)

Akar dan perkembangan pemikiran fenomenologi 

Sekitar abad 15 dan 16 M, di Eropa telah terjadi suatu perubahan terbesar dalam perspektif manusia tentang dirinya. Hal ini dikarenankan di abad pertengahan, manusia memandang segala hal dari sudut pandang „ketuhanan‟ kaitannya dengan Tuhan yang menciptakan, mengarahkan, mempertahankan, serta penyelamat manusia dan seluruh alam raya. Selanjutnya, munculnya modernitas mengubah paradigma berpikir ini. Pada abad-16 banyak orang yang menolak banyak klaim Gereja, serta dasar-dasar atheism yang dirumuskan oleh filsuf era itu. Hal ini yang mengantarkan peradaban Eropa menuju masa pencerahan. Dari sinilah awal mula muncul dua aliran besar yang saling bertentangan, yakni rasionalisme dan empirisme. Kemudian, pertentangan ini berlanjut pada perseteruan dua aliran besar filsafat Eropa, yakni idealis dan realistis. 

fenomenologi agama Ada empat 

pengertian yang diberikan untuk mendefinisikan “fenomenologi agama”, seperti yang dikemukakan oleh Ruglas Allen :

 1. Fenomenologi agama diartikan sebagai sebuah investigasi terhadap fenomena atau objek-objek, fakta-fakta dan peristiwa-peristiwa agama yang bisa diamati.

 2. Fenomenologi diartikan sebagai sebuah studi komparatif dan klasifikasi tipetipe fenomena agama yang berbeda. 

3. Fenomenologi agama diartikan sebagai cabang, disiplin atau metode khusus dalam kajian-kajian agama. 

4. Ada ilmuan yang fenomenologi agamanya dipengaruhi oleh fenomenologi filsafat

Integralisasi Metode Burhani dengan Fenomenologi 

Menurut Mulyadhi2 , ada dua metode dalam upaya mendekati kebenaran, yaitu, metode empiris dan metode clan atau logis. Metode empiris mengacu pada metode inderawi karena mengandalkan pencerapan indera lahir, terutama indera penglihatan. Metode kedua adalah metode logika. Paham-paham filsafat Barat terbagi menjadi dua kelompok umum yakni rasionalis dan empiris. Rasionalisme berpendirian jika sumber pengetahuan terletak pada akal. Sedangkan empirisme berkata bahwa jika jalan untuk memperoleh pengetahuan adalah dengan pengalaman. Dalam epistemologi Islam, sumber pengetahuan yang banyak mempergunakan peran akal atau rasio dikenal dengan istilah metode burhani, sedangkan yang mempergunakan kemampuan inderawi atau kerangka berpikir induktif dan deduktif di kenal dengan sebutan metode bayani, dan yang mempergunakan kekuatan intuitif disebut dengan metode irfani

Komentar