Antropologi
Pengertian antropologi, perkembangan Budaya Islam, Pembauran agama dan budaya dari sudut pandang Antropologi
1. Pengertian antropologi
Antropologi terdiri dari dua kata yaitu antropos yang berarti manusia dan logos artinya ilmu. Jadi, antropologi adalah ilmu yang mempelajari tentang segala aspek manusia. Dalam kacamata antropologi, manusia dipandang sebagai makhluk yang kompleks dari segi fisik, emosi, sosial, dan kebudayaannya. Antropologi sering disebut juga ilmu tentang manusia dan kebudayaannya.
2. Perkembangan Antropologi
Antropologi sebagai disiplin ilmu yang berdiri sendiri, masa perkembangannya sebagaimana yang telah disebutkan Koentjaraningrat berawal dari kedatangan orang-orang Eropa ke benua Afrika, Asia dan Antartika, sebelum abad ke-18 M hasil perjalanan mereka menuju berbagai wilayah dengan berbagai misi perjalanan yang terdiri dari para mufasir, pelaut, pendeta, pensiar agama dan pegawai ke pemerintahan jajahan mulai dikumpulkan dalam himpunan buku besar yang memuat deskripsi adat istiadat, susunan masyarakat, bahasa dan ciri-ciri fisik, berbagai warna suku bangsa. Pada permulaan abad ke-19, perhatian terhadap pengetahuan tentang adat istiadat susunan masyarakat dan ciri-ciri fisik masyarakat di luar bangsa Eropa menjadi sangat besar, dan pada pertengahan abad ke-19 muncul berbagai buku karangan yang berisi etnografis berdasarkan evolusi masyarakat. Dengan munculnya berbagai karangan yang mengklarifikasikan bentuk warna kehidupan di seluruh dunia pada tahun 1860-an maka lahirlah ilmu antropologi yang bersifat akademikal.
a. Antropologi Sosial Budaya
Dalam kacamata antropologi, manusia dipandang sebagai makhluk yang kompleks dari segi fisik, emosi, sosial, dan kebudayaannya. Antropologi sering disebut juga ilmu tentang manusia dan kebudayaannya. Mereka belajar bagaimana berperilaku dengan cara meniru atau belajar dari generasi di atas mereka dan juga dari lingkungan alam dan sosial di sekitar mereka. Inilah yang disebut oleh para antropolog sebagai budaya. Kebudayaan kelompok manusia, baik kelompok kecil maupun kelompok yang sangat besar, merupakan objek khusus kajian Antropologi Sosial Budaya.
*Konsep Budaya
Menurut Ralph Linton "Kebudayaan adalah keseluruhan cara hidup suatu masyarakat dan bukan hanya bagian dari cara hidup yang dianggap lebih tinggi dan lebih diinginkan." Jadi, budaya mengacu pada berbagai aspek kehidupan. Istilah ini mencakup cara bertindak, kepercayaan dan sikap, serta hasil kegiatan manusia yang khusus untuk masyarakat atau kelompok penduduk tertentu.
Kebudayaan Diperoleh dari Belajar
Kebudayaan yang dimiliki manusia juga dimiliki oleh belajar. Ia tidak diwariskan secara biologis atau diwariskan melalui unsur genetik, hal ini perlu ditegaskan untuk membedakan perilaku manusia yang didorong oleh budaya dengan perilaku makhluk lain yang perilakunya didorong oleh naluri.Kebudayaan Milik Bersama
Agar disebut budaya, kebiasaan individu harus dimiliki oleh sekelompok orang. Antropolog membatasi diri untuk berargumen bahwa suatu kelompok memiliki budaya jika warganya berbagi jumlah pola berpikir dan berperilaku yang sama yang diperoleh melalui proses pembelajaran. Budaya dapat didefinisikan sebagai seperangkat keyakinan, nilai, dan cara bertindak atau kebiasaan yang dipelajari dan dimiliki bersama oleh warga suatu kelompok masyarakat. Pengertian komunitas itu sendiri dalam Antropologi adalah sekelompok orang yang tinggal di suatu daerah dan yang menggunakan bahasa yang biasanya tidak sulit bagi penduduk tetangganya.
3. Kebaudayaan sebagai Pola
Dalam setiap masyarakat, anggotanya mengembangkan sejumlah pola budaya yang ideal dan pola-pola ini cenderung senang dengan adanya batas-batas budaya. Pola budaya ideal tersebut mengandung hal-hal yang diakui sebagian besar masyarakat sebagai kewajiban yang harus dilaksanakan dalam keadaan tertentu. Pola-pola ini sering disebut sebagai norma, meskipun kita semua tahu bahwa tidak semua orang dalam budaya mereka selalu melakukan apa yang telah mereka tetapkan bersama sebagai cita-cita.
b. Antropologi Agama
Keterkaitan antara agama dan realitas budaya dimungkinkan karena agama tidak berada dalam ruang hampa yang selalu orisinal. Menyangkal keterkaitan agama dengan realitas budaya berarti mengingkari realitas agama itu sendiri yang selalu berhubungan dengan manusia, yang harus dikelilingi oleh budaya. Fakta ini juga berarti bahwa perkembangan agama dalam suatu masyarakat, baik dalam wacana maupun dalam praktik sosial, menunjukkan adanya unsur-unsur konstruksi manusia.
Anthony F. C. Walance mendefinisikan agama sebagai “perangkat seremonial, yang dirasionalisasikan oleh mitos, dan yang menggerakkan” kekuatan gaib dengan maksud untuk mencapai dan mencegah perubahan keadaan pada manusia atau alam.” Definisi ini mengandung pengakuan bahwa seseorang tidak dapat mengatasi masalah serius yang menimbulkan kecemasan, manusia berusaha mengatasi masalah dengan kekuatan gaib. Untuk itu maka upacara keagamaan digunakan yang menurut Walance dipandang sebagai gejala dari agama utama atau "agama sebagai tindakan,Agama dalam hal ini dipandang sebagai keyakinan dan pola perilaku, yang digunakan manusia untuk mengontrol aspek-aspek alam yang tidak dapat mereka kendalikan sendiri, sehingga dalam hal ini agama merupakan bagian dari semua budaya. Antropologi, sebagai ilmu yang mempelajari manusia, sangat penting untuk memahami agama. Antropologi mempelajari manusia dan perilakunya untuk memahami perbedaan budaya manusia. Berbekal pendekatan holistik dan komitmen antropologis untuk memahami manusia, antropologi sebenarnya merupakan ilmu yang penting untuk mempelajari agama dan interaksi sosialnya dengan berbagai budaya. Nurcholish Madjid mengungkapkan bahwa pendekatan antropologi sangat penting untuk memahami Islam, karena konsep manusia sebagai 'khalifah' (wakil Tuhan) di muka bumi, misalnya, merupakan simbol pentingnya kedudukan manusia dalam Islam.
Agama ditujukan untuk kepentingan manusia, maka sebenarnya masalah manusia juga merupakan masalah agama. Dalam Islam manusia digambarkan sebagai khalifah Allah di muka bumi. Secara antropologis ungkapan ini berarti bahwa realitas manusia sebenarnya adalah bagian dari realitas ketuhanan. Di Sini terlihat bagaimana kajian tentang manusia yang menjadi pusat perhatian antropologi menjadi sangat penting.
Komentar
Posting Komentar