Pendekatan Historis Studi Islam, Studi Islam Masa Klasik, Pertengahan, dan Modern
A. Pengertian Pendekatan Historis
Pendekatan historis merupakan penelaahan serta sumber-sumber lain yang berisi informasi mengenai masa lampau dan dilaksanakan secara sistematis, maka dapat dikatan bahwa pendekatan historis dalam kajian Islam adalah usaha sadar dan sistematis untuk mengetahui dan memahami serta membahas secara mendalam tentang seluk-beluk atau hal-hal yang berhubungan dengan agama Islam, baik berhubungan dengan ajaran, sejarah maupun praktik-praktik pelaksanaannya secara nyata dalam kehidupan sehari-hari, sepanjang sejarahnya.
B. Studi Islam Masa Klasik
Studi Islam masa klasik dimulai sejak tahun 650 hingga 1250 M. Namun sebelumnya, Nabi Muhammad SAW telah melakukannya untuk membimbing para sahabat. Tema studi Islam pada masa itu seputar ajaran Islam yang diturunkan oleh Allah SWT kepada Nabi Muhammad SAW, terutama soal akidah dan ibadah.
Secara keselurahan studi Islam dibawah bimbingan Nabi Muhammad SAW berlangsung selama 23 tahun. Rinciannya, selama 13 tahun dilakukan di Mekah, dimana Nabi SAW mengalami tantangan berat dari penduduknya. Berbeda dengan di Mekah, ketika tinggal 10 tahun di Madinah, studi Islam berkembang dan mendapat respons positif. Metode studi Islam pada masa Nabi Muhammad SAW dan para sahabat adalah metode bayani atau ijtihadi. Metode ini bersifat menjelaskan atau menerangkan. Misalnya, ayat al-Qur’an yang satu dijelaskan dengan ayat al-Qur’an yang lain. Terkadang juga dijelaskan oleh Nabi Muhammad SAW sendiri yang kemudian dikenal dengan al-Hadits.
C. Studi Islam Masa Pertengahan
1. Masa Abbasiyah
Popularitas daulat Abbasiyah mencapai puncaknya di zaman khalifah Harun al Rasyid (786-809 M) dan puteranya al Ma’mun (813-833 M). Masa pemerintahan Harun al Rasyid yang berkuasa selama 23 tahun itu merupakan permulaan zaman keemasan bagi sejarah dunia Islam belahan timur.
Kehidupan intelektual di zaman dinasti Abbasiyah diawali dengan berkembangnya perhatian pada perumusan dan penjelasan panduan keagamaan terutama dari dua sumber utama yaitu al Quran dan Hadits. Dari kedua sumber ini lalu muncullah berbagai keilmuan lainnya.Perhatian itu bisa dilihat dengan banyaknya kitab yang ditulis untuk menjelaskan al Quran.Dari gambaran di atas Bani Abbasiyah pada periode pertama lebih menekankan pembinaan peradaban dan kebudayaan Islam daripada perluasan wilayah.
Dalam bidang pendidikan, misalnya, di awal kebangkitan Islam, lembaga pendidikan sudah mulai berkembang. Ketika itu, lembaga pendidikan terdiri dari dua tingkat:
Maktab/Kuttab dan masjid, yaitu lembaga pendidikan terendah, tempat anak-anak mengenal dasar-dasar bacaan, hitungan dan tulisan; dan tempat para remaja belajar dasar-dasar ilmu agama, seperti tafsir, hadits, fiqh dan bahasa.
Tingkat pendalaman. Para pelajar yang ingin memperdalam ilmunya, pergi keluar daerah menuntut ilmu kepada seorang atau beberapa orang ahli dalam bidangnya masing-masing. Pada umumnya, ilmu yang dituntut adalah ilmu-ilmu agama dasar
* Pada masa daulah Abbasiyah, ibukota Bagdad menjadi pusat intelektual muslim, di mana terjadi pengembangan ilmu pengetahuan dan kebudayaan Islam. Perpustakaan adalah salah satu cara yang ditempuh oleh orang dahulu untuk menyiarkan ilmu pengetahuan. Pada masa itu buku-buku sulit untuk dimiliki karena belum ada mesin percetakan sehingga penyebarannya masih melalui tulisan tangan. Sehingga wajar buku-buku yang ada hanya dimiliki atau mampu dibeli oleh golongan kaya atau yang memilki kemauan keras untuk menuntut ilmu pengetahuan.
* Tersedianya berbagai buku serta kajian ilmiah yang dilakukan dalam perpustakaan tersebut telah menjadi salah satu bibit tumbuhnya lembaga tinggi Islam yang pertama, seperti Akademi Bayt al Hikmah di Bagdad dan Akademi Dar al Hikmah dengan Cairo (Salabi, 1987: 115). Jadi keberadaan perpustakaan dalam tradisi keilmuan Islam, mempunyai peran bukan saja sebagai sarana peminjaman buku, namun sebagai pusat pengembangan ilmu pengetahuan.
* Pada masa Abbasiyah Islam meraih kejayaannya. Banyak kontribusi keilmuan yang disumbangkan. Karya dan tokoh-tokohnya telah menjadi inspirasi dalam pengembangan keilmuan, oleh karena itu masa ini dikatakan sebagai masa keemasan Islam walau akhirnya peradaban Islam mengalami kemunduran dan kehancuran di bidang keilmuan bersamaan dengan berakhirnya pemerintahan Abbasiyah.
D. Studi Islam Masa Modern
* Masa modern bagi dunia Islam dimulai pada tahun 1800 M yang ditandai dengan adanya kemauan untuk memperoleh kemajuan dalam berbagai bidang. Juga muncul tokoh-tokoh pembaharu dan pemikir Islam di berbagai negara Islam.Pada awal masa modern ini pada umumnya negara - negara Islam berada dalam kolonialisme. Baru pada abad ke-20 M, banyak negara - negara Islam yang memerdekakan diri, seperti Indonesia (17 Agustus 1945), Pakistan (15 Agustus 1947), dan Mesir (28 Februari 1922)
Manusia yang telah menghayati modernitas, menganut dan menerapkan nilai-nilai fundamental berikut:
- Penghormatan terhadap akal
- Jujur dan memiliki tanggung jawab personal
- Kemampuan menunda kesenangan sesaat demi kesenangan abadi.
- Komitmen waktu dan etos kerja tinggi.
- Keyakinan akan keadilan yang merata.
Pada masa sebelum dan sesudah masa pembaruan yaitu tahun 1800 M, umat Islam di berbagai negara telah melakukan banyak penyimpangan, diantaranya:
- Masyarakat telah menganggap makam adalah sesuatu yang keramat dan kemudian mereka menyembahnya.
- Adanya kelompok Islam yang berpikir bahwa di dunia hanya sebentar sehingga tidak perlu mencari harta, ilmu, dan kedudukan yang tinggi.
Perkembangan Ilmu Pengetahuan Masa Modern
* Pada masa pembaharuan, ilmu pengetahuan mengalami kemajuan seperti di negara Turki, India dan Mesir. Sultan Muhammad II (1785-1839) dari kesultanan Turki Usmani melakukan berbagai usaha agar umat Islam di negaranya dapat menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi.
Usaha-usahanya adalah sebagai berikut:
1. Melakukanmodernisasi di bidang pendidikan dan pengajaran dengan memasukkan kurikulum pengetahuan umum kepada lembaga lembaga pendidikan Islam (Madrasah)
2. Mendirikan lembaga pendidikan "Mektebi Ma'arif" untuk menyediakan tenaga ahli di bidang administrasi dan "Mektebi Ulumi Edebiyet" untuk tenaga ahli di bidang penerjemah.
3. Mendirikan perguruan tinggi di bidang kedokteran, militer dan teknologi.
Berikut tokoh-tokoh cendikiawan muslim lainnya yang bermaksud untuk memajukan Islam di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi:
1. Syah Waliyullah (1703-1762)
2. Sayyid Ahmad Khan (1817-1898)
3. Sayyid Amir Ali (1849-1928)
4. Muhammad Iqbal (1873-1938)
5. Muhammad Ali Jinnah (1876-1948)
6. Abdul Kalam Azad (1888-1956)
Perkembangan Budaya Islam Masa Modern
# 1Bidang Arsitektur
1. Masjidil Haram
Setelah ditemukannya ladang minyak pada tahun 1933, Saudi Arabia kini tidak lagi menjadi negara miskin, namun menjadi salah satu negara kaya. Hal ini secara tidak langsung berdampak pada perkembangan Islam, salah satunya Masjidil Haram. Sekarang Masjidil Haram sangat luas dan sangat megah. Masjidil Haram saat ini berlantai empat, dan untuk naik ke lantai selanjutnya disediakan eskalator.
2. Masjid Nabawi
Masjid Nabawi adalah sebuah masjid yang megah dan indah yang sangat luas. Dahulu luasnya ± 2.500 m², sekarang luasnya menjadi ± 165.000 m². Hal ini membuat makam Rasulullah, Abu Bakar, dan Umar bin Khattab yang dahulu di luar masjid sekarang berada di dalam masjid
Masjid Nabawi bertambah indah dan megah dengan adanya 10 buah menara, 95 buah pintu masjid yang lebar dan indah, dan kubah yang dapat terbuka dan tertutup.
# Bidang Kaligrafi
Kaligrafi merupakan satu-satunya seni Islam, yang murni dihasilkan oleh orang Islam. Seni kaligrafi biasa dipakai sebagai hiasan masjid, penyekat ruang, hiasan dinding rumah, dan lain-lain. Media yang digunakan pun beragam yakni dari kertas, kain, kulit, kaca, emas, dan keramik.
Komentar
Posting Komentar